IbadahMuamalah

Zakat Fitrah Bagi Yang Belum Dewasa

Pertanyaan:

Ada persoalan bagi saya tentang zakat fitrah bagi anak yang belum dewasa. Anak itu belum dewasa, jadi mestinya tidak kena taklif. Kalau dibayar oleh orang tuanya, tidakkah bertentangan dengan ayat yang berbunyi (artinya): “Orang itu hanya akan mendapat pahala kebaikan, apa yang telah diusahakan? Dan tidak pula seseorang dikenai taklif kecuali menurut kemampuannya”.

Dalam pada itu zakat adalah untuk mensucikan diri, padahal anak kecil belum mempunyai dosa, di samping adanya keterangan bahwa bersuci itu pada hakikatnya untuk dirinya sendiri. Bagaimana kalau yang membayar orangtuanya? Mohon penjelasan. (Nuri, BA, Kertanegara, Kec. Karanganyar, Purbalingga).

Jawaban:

Mengenai kewajiban untuk membayar zakat fitrah bagi anak kecil termaktub dalam Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : فَرَضَ رَسولُ اللهِ ﷺ زَكاةَ الفِطْرِ صاعًا مِن تَمْرٍ، أوْ صاعًا مِن شَعِيرٍ على العَبْدِ والحُرِّ، والذَّكَرِ والأُنْثى، والصَّغِيرِ والكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ

Artinya: Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah saw. memfardhukan (membayar) zakat fitrah di bulan Ramadhan, satu sha’ berupa tamar (korma yang telah masak), satu sha’ berupa syair (sebangsa jewawut, jelai dan sebagainya), pada hamba, orang merdeka, orang lelaki, orang perempuan, anak kecil dan orang tua dari orang Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

Lebih jauh bahwa pemberian itu dibebankan pada kepala keluarga yang memberi nafkah pada mereka, yakni didasarkan pada riwayat Jamaah dari Abu Sa’id Al Khudry yang dapat dikualifikasikan Hadis maukuf sebagai berikut:

عن أبي سعيد الخدري: كُنّا نُخْرِجُ إذْ كانَ فِينا رَسولُ اللهِ ﷺ زَكاةَ الفِطْرِ، عن كُلِّ صَغِيرٍ، وكَبِيرٍ، حُرٍّ، أوْ مَمْلُوكٍ، صاعًا مِن طَعامٍ، أوْ صاعًا مِن أقِطٍ، أوْ صاعًا مِن شَعِيرٍ، أوْ صاعًا مِن تَمْرٍ، أوْ صاعًا مِن زَبِيبٍ 

Artinya: “Berkata Abi Sa’id Al Khudry. Keadaan kami dahulu, di masa Rasulullah masih hidup bersama kami, kami mengeluarkan zakat fitrah untuk anak kecil, orang tua, baik hamba sahaya maupun merdeka, satu sha’ dari makanan, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ jewawut, atau satu sha’ tamar atau satu sha’ kismis (anggur kering).” (HR. Segolongan Ahli Hadis)

Melihat bunyi lafaz bahwa pembayaran zakat fitrah oleh para sahabat itu di kala Nabi masih hidup, dapat diambil sebagai qarinah bahwa Hadis maukuf itu dapat digolongkan bihukmil marfu’. Memahami Hadis pertama tentang pengeluaran zakat fitrah untuk anak, budak dan sebagainya yang pelaksanaannya disebutkan pada Hadis kedua dilakukan oleh orangtua atau tuannya, dengan mengambil pengertian dari kata: KUNNA NUKHRIJU ZAKAATAL FITRHI AN KULLI SHAGHIRIN dan seterusnya.

Hadis kedua di atas, jelas dasar hukum mengeluarkan zakat fitrah untuk anak kecil, hamba dan sebagainya. Dalam pada itu kalau kita lihat pada kitab-kitab fiqih, seperti Badayatul Mujtahid, demikian pula pada Ensiklopedi Ijma’, pembayaran zakat fitrah anak yang tidak memiliki harta sendiri atau budak yang tidak memiliki harta sendiri dilakukan oleh orang tua atau tuannya, termasuk masalah yang telah disepakati para mujtahidin. Dengan kata lain telah ada ijmak terhadapnya.

Mengenai apakah dapat diterima amal untuk orang lain juga mensucikan untuk orang lain, dalam hal ini orangtua untuk anaknya atau tuan untuk hambanya, sedangkan ayat menyatakan bahwa WA ANLAISA LIL INSANI ILLA MAASA’A.

Kalau penetapan hukum itu datang dari Allah dengan ayat, maka ayat yang lain ataupun Hadis memberi penjelasan terhadap ayat yang pertama, sehingga kalau pengeluaran zakat fitrah orang tua terhadap anaknya atau tuan terhadap hambanya berdasarkan Hadis, maka hal itu merupakan kekhususan yang dibenarkan. Sebagaimana juga Nabi memberi kekhususan bagi anak melakukan beberapa macam ibadah yang karena belum sempat dilakukan orangtuanya, kemudian orang tuanya meninggal dunia.

Baca juga:  Zakat Fitrah untuk Sebagian Anggota Keluarga

Dalam pada itu pula, kebersihan yang dikehendaki dalam zakat fitrah adalah kebersihan dari kekotoran sikap dan kata-kata, yang dapat pula dilakukan oleh anggota keluarga, baik anak, isteri atau hamba dalam keluarga itu.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button